This is an example of a HTML caption with a link.
Tampilkan postingan dengan label salju dieng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salju dieng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival adalah acara Budaya atau semacam pesta rakyat yang biasa digelar Masyarakat Dataran Tinggi Dieng setiap tahunnya.

Pada Tahun ini, acara DCF (Dieng Culture Festival) akan diadakan pada Tanggal 30 Juni hingga 1 Juli 2012.

Diawali dengan acara kirab (arak-arakan) keliling kampung dengan anak-anak berambut Gimbal diatas kereta Kuda (dokar), Dipagari para abdi berpakaian Jawa yang mengawal kirab dengan barisan pemangku adat di depan dan para penari di belakang.
Setelah berkeliling kampung Arak-arakan berjalan menuju Komplek Candi Arjuna tempat diadakannya acara pemotongan rambut Gimbal , dan lalu dilanjutkan ke Telaga untuk melaksanakan pelarungan Rambut gimbal yang telah dipotong.

Acara ini dimeriahkan oleh rangkaian pentas seni yang dibawakan oleh seniman Lokal seperti Tari Lengger atau Tari Topeng, Tek-tek (paduan alat musik dari bambu yang di mainkan dengan irama tertentu dengan membawakan lagu tertentu-biasanya lagu-lagu tradisional), Tari Rampak Yagsa dan lain-lain.

Bagi anda yang penasaran ingin mengetahui bagaimana ritual pemotongan rambut gimbal dan atau seni budaya khas Dieng dari dekat, jangan lewatkan kesempatan mengunjungi dataran tinggi




Fenomena Salju di Dieng


Memasuki puncak kemarau musim ini, yang diperkirakan jatuh pada pertengahan hingga akhir bulan Agustus, di Dataran Tinggi Dieng akan terjadi fenomena alam yang unik yakni frost atau masyarakat Dieng biasa menyebutnya embun salju atau embun upas.

Disebut embun salju karena embun tersebut membeku layaknya salju yang menempel di pucuk-pucuk daun, putih membentang terhampar di sepanjang lahan pertanian dan padang ilalang. Pemandangan langka itu biasa terjadi antara bulan Agustus-September dan menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama bagi mereka yang belum pernah melihat salju.

Hamparan tanaman kentang dan padang ilalang di Dieng akan berubah menjadi hamparan embun putih yang beku. “Bagi tanaman kentang, embun ini memiliki dampak buruk,” kata Ony Wiyono, petugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Kamis (2/8).

Pasalnya, tanaman itu tak tahan terhadap embun tersebut lantaran bisa layu, membusuk dan mati. Makanya embun ini disebut juga embun upas atau dalam bahasa Jawa berarti racun. Terlepas dari itu, pesona Dieng pada puncak kemarau musim ini cukup mengagumkan.

Para penggemar fotografi bisa mengabadikan segala sisi kawasan Dieng yang memutih dan dingin. Frost atau embun salju ini bisa dilihat dibeberapa titik yakni kawasan Candi Arjuna, lapangan Dieng dan sekitar terminal Telaga Warna. “Sudah empat hari embun upas turun di kompleks candi,” kata Sekretaris Kelompok Tani Kentang Perkasa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Kabul Suwoto.

Namun embun salju itu diperkirakan masih akan turun mengingat kondisi cuaca masih sangat dingin. Masyarakat Dieng sudah sangat akbrab dengan kejadian unik ini. Tanda-tandanya, pada siang hari suhu udara akan mencapai 22-24 derajat celsius, sementara pada malam hari suhu bisa mencapai minus lima derajat celsius.

Puncak beku biasanya terjadi sekitar pukul 02.00 sampai 06.00 pagi. “Malam saat sebelum titik beku, kondisi cuaca sangat cerah. Akan terlihat jutaan bintang bertaburan di langit Dieng,” ujar M Fanani, warga Desa Tieng, Kecamatan Kejajar. sumber: suaramerdeka.com